Rangkuman Materi Kata Bahasa Indonesia UTBK-SBMPTN

Kata Bahasa Indonesia

A. Kata Baku dan Tidak Baku

Kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku di dalam bahasa Indonesia. Kata baku menjadi tolak ukur atau standar. Sedangkan kata tidak baku adalah kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan. Contoh:
Kata tidak baku: arkheologi, cinderamata, efektip, hakekat, jadual, kadaluarsa,dll
Kata baku: arkeologi, cendera mata, efektif, hakikat, jadwal, kadaluwarsa, dll

B. Konjungsi/ Kata Penghubung

Konjungsi disebut dengan kata penghubung atau kata sambung, yang termasuk kata tugas dengan fungsi menghubungkan antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Jenis-jenis konjungsi, sebagai berikut:

  1. Konjungsi antarklausa: kata penghubung antara dua buah klausa atau lebih. Terdapat tiga macam konjungsi antarklausa, yaitu:
    a. Konjungsi korelatif: untuk menghubungkan dua kata, frasa, klausa, dengan status konjungsi setara. Contohnya:
    – Baik … maupun …
    – Entah … entah …
    – Bukan hanya … melainkan …
    – Jangankan … pun …
    – Sedemikian rupa … sehingga …
    – Tidak hanya … tetapi (juga) …
    b. Konjungsi subordinatif: untuk menghubungkan dua kata, frasa, klausa dengan status konjungsi bertingkat. Contohnya:
    – Hubungan cara: dengan
    – Hubungan konsesif: meskipun, sekalipun, biarpun, walaupun
    – Hubungan pengandaian: andaikan, seandainya, sekiranya
    – Hubungan penjelasan: bahwa
    – Hubungan pemiripan: seperti, sebagaimana, seolah-olah, seakan-akan
    – Hubungan sebab: sebab, karena, oleh karena
    – Hubungan syarat: jika, bila, kalau, asalkan
    – Hubungan tujuan: agar, supaya
    – Hubungan waktu: sesudah, sebelum, setelah, sementara, sehingga, sejak, ketika, selama, sambil
    c. Konjungsi koordinatif: untuk menghubungkan klausa-klausa sederhana atau kalimat setara. Contohnya:
    – Hubungan penjumlahan: dan, serta, juga
    – Hubungan pertentangan: tetapi, sedangkan
    – Hubungan pilihan: atau
  2. Konjungsi antarkalimat: kata penghubung untuk menghubungkan suatu kalimat dengan kalimat yang lain. Contohnya:
    Menyatakan kesediaan untuk melakukan sesuatu yang berbeda ataupun bertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya: biarpun demikian/ meskipun demikian, sekalipun demikian.Menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya: kemudian, sesudah itu, setelah itu, selanjutnya.Menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya: tambahan pula, lagi pula, selain itu.Mengacu ke kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya: sebaliknya.Menyatakan keadaan yang sebenarnya: sesungguhnya/ bahwasanya.Menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya: malah-an, bahkan.Menyatakan keadaan pertentangan dengan keadaan sebelumnya: akan tetapi, namun, kecuali itu.Menyatakan konsekuensi: dengan demikianMenyatakan akibat: oleh karena itu, oleh sebab itu.Menyatakan kejadian yang dinyatakan sebelumnya: sebelum itu.

C. Kata Rujukan

Kata rujukan adalah kata yang merujuk pada kata lain yang telah diungkapkan sebelumnya. Jenis-jenis kata rujukan:

    1. Rujukan benda atau hal: ini, itu, tersebut
    2. Rujukan tempat: di sini, di sana, di situ
    3. Rujukan personil/orang: dia, ia, beliau, mereka

D. Kata Berimbuhan

Kata berimbuhan adalah kata dasar atau kelompok kata (frasa) yang memperoleh imbuhan. Ada tiga jenis imbuhan, sebagai berikut:

    1. me + tulis = menulis
    2. me + kabar + kan = mengabarkan
    3. me + pukul = memukul
    4. me + prakarsa + i = memprakarsai

E. Kata Ulang

Kata ulang adalah kata yang terjadi karena proses reduplikasi atau pengulangan, baik pengulangan secara utuh, sebagian, atau berimbuhan. Jenis-jenis kata ulang, yaitu:

    1. Kata ulang sebagian (Dwipurwa), contohnya: tetangga, leluhur, leluasa.
    2. Kata ulang utuh atau penuh (Dwilingga), contohnya: bapak-bapak, rumah-rumah, kejadian-kejadian.
    3. Kata ulang berubah bunyi (Dwilingga salin suara), contohnya: gerak-gerik, basa-basi, sayur-mayur.
    4. Kata ulang berimbuhan, contohnya: tarik-menarik, bermain-main, bermacam-macam.
    5. Kata ulang semu, kata yang sebenarnya merupakan kata dasar dan bukan hasil pengulangan (reduplikasi). Contohnya: cumi-cumi, laba-laba, kupu-kupu.

Makna-makna kata ulang, sebagai berikut:

      1. Menyatakan jamak/ tak tentu, contohnya: anak-anak, buku-buku, bapak-bapak.
      2. Menyatakan bermacam-macam, contohnya: pohon-pohonan, buah-buahan.
      3. Menyatakan menyerupai, contohnya: langit-langit, kebarat-baratan, mobil-mobilan.
      4. Menyatakan intensitas/kuantitas dan kualitas, contohnya: mondar-mandir, kuat-kuat.
      5. Menyatakan saling/ berbalasan, contohnya: tikam-menikam, bersalam-salaman.
      6. Menyatakan kolektif (pada kata bilangan), contohnya: satu-satu, lima-lima.
      7. Menyatakan dalam keadaan, contohnya: mentah-mentah, hidup-hidup.
      8. Menyatakan walaupun/ meskipun, contohnya: kecil-kecil.
      9. Menyatakan perihal, contohnya: masak-memasak, jahit-menjahit.
      10. Menyatakan tindakan untuk bersenang-senang, contohnya: makan-makan, duduk-duduk.
      11. Menyatakan agak, contohnya: kemerah-merahan, kebiru-biruan.
      12. Menyatakan tindakan yang dilakukan berkali-kali, berulang-ulang.
      13. Menyatakan himpunan, contohnya: berjam-jam.

F. Perubahan Makna Kata

  1. Amelioratif
    Proses perubahan makna yang baru dirasakan lebih tinggi/ baik nilainya daripada arti yang lama. Contohnya: wanita = perempuan, istri = bini.
  2. Asosiasi
    Perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat antara dua hal. Contohnya:
    Pedagang kaki lima disisir petugas.
    Maksud disisir adalah dirapikan sebagaimana fungsi sisir.Oknum pegawai yang suka mencatut sudah dimutasi ke daerah terpencil.
    Makna catut adalah menarik, arti yang sesungguhnya catut adalah sejenis alat untuk mencabut paku.
  3. Generalisasi
    Cakupan arti kata yang baru menjadi lebih luas. Contohnya: kata bapak, ibu, saudara.
    Kata ibu, bapak, saudara pada zaman dulu digunakan hanya untuk yang memiliki hubungan biologis, sekarang siapa saja dapat dipanggil dengan sapaan ibu, bapak, saudara.
  4. Peyoratif
    Proses perubahan makna yang baru dirasakan lebih rendah/ buruk nilainya daripada makna yang lama. Contohnya: babu, pembantu, kaki tangan.
  5. Sinestesia
    Perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan. Contohnya: kata-katanya pedas, pidatonya hambar.
    Kata pedas dan hambar sebenarnya tanggapan untuk indra perasa.
  6. Spesialisasi
    Cakupan arti kata yang baru lebih sempit/ khusus. Contohnya:
    Kata pendeta sekarang hanya digunakan untuk menyebut guru agama Kristen, sedangkan dulu setiap orang yang berilmu disebut sebagai pendeta.

    Kata sarjana sekarang hanya digunakan untuk orang yang lulus perguruan tinggi, sedangkan dulu setiap orang yang cendekia dapat dipanggil sarjana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page